Mungkin Aku Dihipnotis 02:33

Cerpen.


Mungkin aku dihipnotis, jelas aku diracuni. Semua tentangmu adalah palsu, dan aku dengan senang hati tertipu. Aku menggilaimu dengan sepenuh hati, dan waktuku hanya padamu. Segenap rindu tak pernah habis, bertambah kuat dan kukuh, dan pikiranku roboh, dan hatiku hancur, dan hidupku hancur.

Siang dan malam hanya untukmu. Siksa dan dera aku terima. Air mata tak jadi soal. Ayah dan Ibu tak lagi ada dalam ruang hatiku. Sahabat tak pernah jadi yang terindu. Bahkan Yang Maha Kuasa tak lagi kukenal. Kutolak semua, hanya kau yang tersisa. Pun seluruh hidupku, kau yang berkuasa. Jadi apa yang tersisa?

Aku mengaduh, kau tak mau tahu. Dengan begitu cerdik, kau rayu aku. Dan aku dengan rindu, datang lagi padamu.

Tidak pernah tahu, kapan aku sadar? Kapan aku tidak sadar? Semua waktu terasa sama saja, sebentar melayang, sebentar terempas dan aku kesakitan. Dan aku datang lagi padamu, dan aku jatuh hati lagi padamu.

Harus jujur kah? Baiklah. AKU SANGAT KESEPIAN DAN AKU SANGAT KESAKITAN!

Mengapa semua berubah saat kau datang? Tidak pernah aku merasakan sensasi luar biasa saat dengan sadar aku mencobamu untuk pertama kalinya, lalu tanpa sadar aku mencobamu untuk tak terhitung kalinya. Kau manis dalam kerongkonganku, lembut dalam pikiranku, kau sensasi luar biasa dalam hatiku. Lalu aku mencoba dengan tusukan di lengan, dan aku makin suka. Ini candu, aku gila dalam candu.

Mengapa semua hilang saat kau datang? Kini aku tiada memiliki selimut hangat untuk menghangatkan kantung air mataku yang membeku, yang tak lagi dapat menetes karena terlalu banyak air yang mengalir darinya. Kutingggalkan semua, semua! Aku malu, aku takut, aku jatuh dalam candu.

Dengan kesadaran tingkat tinggi kunyatakan pada seluruh dunia: kaulah yang terburuk dalam hidupku. Memilihmu adalah keputusan paling ceroboh dari setiap kecerobohanku. Waktuku bersamamu adalah waktu paling sia-sia. Aku patah hati, dan barulah aku tahu ternyata air mata dapat mengalir sedemikian deras karena hati yang patah.

Aku malu dan takut kembali pada orangtua, pada sahabat, pada Tuhan. Aku meninggalkan mereka dan mereka tak akan pernah sudi menerimaku kembali, itu firasatku. Dan aku gembira sampai sesak nafas karena firasatku salah! Mereka menerimaku kembali, dengan air mata yang deras yang juga mengalir deras dari mataku. Aku datang hanya dengan pakaian yang melekat pada tubuhku, tanpa membawa bingkisan sebagai tanda penyesalan. Namun mereka menyambutku bak anak raja, memeluk aku sedemikian erat karena aku telah pulang.

Dan dengan kesadaran paling tinggi yang baru kali ini kualami, aku menyatakan pada dunia: bahwa Tuhan menerimaku dengan seutuhnya. Ia bahkan menantikan aku hari demi hari, aku tahu ini, karena Ia yang memberi tahu kepadaku. Setelah sekian lama, aku merasakan lagi kasih yang dahulu kutinggalkan. Dan sedikitpun kasih-Nya tak berubah, malah aku bertambah dekat pada-Nya. Aku tahu ini, karena ia yang menunjukkannya. Kini hatiku menyatu kembali, baru aku tahu ternyata hati yang patah dapat sembuh pula. Aku tahu ini, karena aku mengalami dan merasakannya.

Aku menyesal, tapi itu tidak berguna. Sakit hatiku bukan lagi topik utama. Tidak berguna dan tidak menjadi topik utama KARENA TUHAN SUDAH MEMULIHKAN DAN MEMAAFKAN AKU, dan pun aku MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI. Kini aku tahu, kau hadir bukan karena kebetulan. Aku menjadi semakin kuat saat aku tidak terpaku pada masa lalu, melainkan mengarahkan hidupku pada masa yang kujelang. Aku dan Tuhan sudah berjanji, kami akan selalu berjalan bersama, INI JANJI UNTUK SELAMANYA.

0 comments:

Post a Comment