Ketika.. Berubah 00:56

Cerpen.

“Mitaaa!! Tau gak siiih? Rena udah punya cowo loh!!”

“Hah! Yang bener Na?”

Mataku melotot tanda tak percaya. Luna mengangguk penuh semangat.

“Gak nyangka ya Ta, temen baik kita, si Rena yang kalem banget itu punya cowo juga. Gue kira dia bakal jadi perawan seumur idup. Hehe..”

Aku hanya tertawa garing.

“Kemaren gue ketemu Lulu di mall, ya ampuuun Ta, sekarang dia charming banget! Rambutnya di smoothing, pake high heels, oke deh!”

Aku diam saja.

“Oiya, katanya si Dodo udah jadian sama Mona. Lu tau gak Ta?”

“Oh, tau”, aku menjawab singkat. Luna melanjutkan celotehannya.

“Dodo yang item, belo, jadian juga Ta!! Hahaha.. Sorry sorry gue bukannya ngejek Dodo, tapi bener kan Dodo itu, emm.. Apa ya? Kurang cakep, hehehe… Udah gitu dia kan grogi banget kalo deket-deket Mona. Dari jaman SMA kelas 2 cintanya sama Mona tak lekang oleh waktu! Hahaha..”

Aku hanya menghela napas panjang.

“Lu kenapa Ta? Magh lu kambuh?”

Aku menggeleng.

“Jangan-jangan… Lu naksir Dodo yaa?!”

Aku menghela napas lagi. “Gak lah Na”.

“Terus?”

Beberapa menit aku diam saja sambil sesekali menghela napas. Luna menunggu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Luna memang agak cerewet, aku benar-benar yakin dia akan menjadi salesgirl yang sukses besar seandainya dia mau jadi salesgirl. Tapi di sisi lain Luna adalah gadis yang sabar, bijak, benar-benar pendengar yang baik.

“Gue… Gue kangen Na sama yang dulu”.

Luna tetap diam. Aku melanjutkan kata-kataku.

“Hhh… Gue ngerasa semua orang udah berubah. Jadi orang-orang yang beda, yang gak lagi gue kenal. Maksud gue, Dodo, Mona, Tasya, Citra, Rena, mereka… Lu ngerti kan Na?”

Luna mengangguk kecil.

“Seminggu yang lalu gue ketemu Ratna. Gue udah heboh nyapa dia, setahun gak ketemu wajar lah gw excited banget. Terus dia datar aja gitu nyapa gue. Dan lu tau? Dia cuma ngomongin soal merk sepatu, tas, dan sebagainya yang boring abis!”

Aku meneguk habis orange juice yang dihidangkan Luna, lalu melanjutkan keluh-kesahku.

“Gue pengen balik ke jaman SMA Na, waktu kita masih kompak, masih ngerjain school project, masih aktif di Rohkris, makan di kantin, bahkan gue kangen sama ulangan fisika yang bikin gue demam tiga hari dua malam.”

“Gue gak pernah berubah Na, sayang gue ke mereka gak pernah berubah. Lu percaya kan Na?”

Luna tersenyum simpul. Manis sekali.

“Lu inget gak Na waktu kita keujanan, si Rena doang yang bawa payung. Akhirnya kita berlima pake itu payung, sama aja boong lah! Terus waktu si Ratna kekunci di kamar mandi kolam renang, sampe kita harus manggil mas-mas penjaga kolamnya buat nyelamatin si Ratna! Hahahaha!”.

Luna ikut tertawa.

“Terus Na, si Tasya pake kaos kaki warna-warni pas upacara. Sebelah kiri putih, yang kanan merah menyala. Huahahaha”.

Kami berdua tertawa histeris.

Setelah aku berhasil mengendalikan diri, aku melanjutkan kata-kataku.

“Tapi sekarang semuanya berubah. Gue… Gue…”

Luna menggenggam tanganku. Matanya teduh.

“Gue salah ya Na kalo kangen sama masa dulu? Berharap mereka gak pernah berubah?”

Beberapa saat kami hanya diam, lalu Luna menjawab lembut, “Lu gak salah kok Ta, kangen sama temen-temen deket kita, berarti lu bener-bener sayang mereka. Berharap mereka gak berubah, itu karena lu kenal baik sama mereka, karena mereka udah jadi temen-temen yang baik dan berarti buat lu tanpa mereka harus jadi orang yang berbeda.”

Aku tertunduk diam.

“Tapi Mita sayang, setiap orang punya jalan hidup masing-masing, dan selalu ada pilihan di jalan itu.”

Aku berkata lemah, “iya ya Na, dan pilihan gue adalah terikat pada masa lalu.”

“Padahal”, Luna melanjutkan.

“Padahal gue punya pilihan untuk jadi Mita yang gak melulu mengenang, yang gak selalu berharap semua orang harus jadi sesuai keinginan gue.”

“Dan?” Luna kembali melanjutkan.

“Dan ngelanjutin jalan hidup gue tanpa tersiksa sama kenangan masa lalu”.

Luna tersenyum lebar. Dia merangkul bahuku.

Aku kembali berkata “Semua temen-temen kita pasti lagi berjuang buat masa depan mereka. Ratna yang kuliah di Bandung, Rena calon bidan, Dodo calon arsitektur, Tasya calon direktur…”.

“Mita calon dosen”, Luna memotong perkataaanku sambil nyengir lebar. Aku tertawa geli.

“Nah, kita juga harus berjuang buat masa depan kita, jangan mau kalah sama jagoan-jagoan yang tadi lu sebutin”. Luna mengepalkan tangannya sebagai tanda memberikan semangat. Aku kembali tertawa.

“Sekarang tau kan apa yang harus kita lakuin?” Luna berkata sambil tersenyum simpul. Aku mengangguk penuh semangat.

Di kamar Luna, aku dan Luna bersama berlutut. Kedua tangan kami terlipat, kami bersama berdoa.

Doaku, “Tuhan Yesus, sungguh kami bersyukur untuk setiap waktu dan kesempatan yang Kau berikan pada kami. Saat ini kami mau berdoa untuk Ratna, Rena, Tasya, Dodo, Mona, dan semua teman-teman yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Bapa, kiranya kau berkati hari-hari mereka, masa depan, harapan mereka, dan jadikan mereka menjadi seperti yang Bapa mau. Juga berkati Luna yang selalu menjadi sahabat baikku. Untuk setiap kenangan, cinta, dan semua orang yang Bapa tempatkan dalam hidup kami, kami berterima kasih. Kuatkan dan teguhkan kami ya Tuhan, walaupun orang-orang di sekitar kami berubah, satu yang pasti, yang kami rasakan dan percaya, kasih-Mu tak pernah berubah untuk selama-lamanya. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Haleluya, Amin.”